KPK Ancam Membubarkan Diri

JADI TERSANGKA: Seluruh komisioner KPK terancam jadi tersangka dan dipaksa non-aktif. (BBC)

JADI TERSANGKA: Seluruh komisioner KPK terancam jadi tersangka dan dipaksa non-aktif. (BBC)

JADI TERSANGKA: Seluruh komisioner KPK terancam jadi tersangka dan dipaksa non-aktif. (BBC)

JAKARTA (WARTATOP) — Untuk pertama kalinya, KPK menyerukan secara terbuka kepada Presiden Joko Widodo agar secepatnya bertindak menyelesaikan kemelut KPK-Polri sebelum dianggap terlambat.

Sebelumnya Presiden Jokowi -yang sedang berada di Malaysia dalam lawatan lima hari ke Malaysia, Brunei, dan Filipina- mengatakan akan mengambil keputusan pekan depan.

Sementara Kepolisian Indonesia sudah mengeluarkan surat perintah penyidikan untuk Ketua KPK, Abraham Samad, dan komisioner KPK, Adnan Pandu Praja, sementara laporan tentang komisioner terakhir, Zulkarnaen, masih diproses.

Jika ketiganya dijadikan tersangka maka mereka akan harus nonaktif sehingga sejumlah besar staf KPK mengancam untuk membubarkan diri dengan menyerahkan kembali mandat kepada presiden.

Seruan agar Presiden Jokowi segera bertindak itu disampaikan Johan Budi, juru bicara dan Deputi Pencegahan Komisi Pemberantasan Korupsi, KPK, dalam jumpa pers khusus pada Kamis (5/2) siang.

“Kami menghimbau, kalau memang bisa menghimbau, kepada Bapak Presiden agar melakukan yang perlu dilakukan untuk mengatasi situasi dan kondisi saat ini,” ucap Johan Budi.

Ia mengaku tidak tahu hal yang sebaiknya dilakukan oleh presiden namun yakin presiden memiliki cara sendiri untuk menyelesaikan persoalan ini.

Ucapan Johan Budi bagai menggaris bawahi keputus-asaan KPK, dalam kemelut KPK-Polri yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir.

Johan Budi menyatakan KPK tentu tak bisa berandai-andai tentang tenggat waktu bagi presiden dalam mengambil tindakan menyelesaikan langkah itu.

“Namun semakin lama tidak ada keputusan yang signifikan dari presiden, maka kondisinya akan semakin tidak kondusif dan semakin tidak jelas.”

Pernyataan Johan Budi yang bernada frustrasi, tampak kontras terhadap pernyataan presiden Jokowi semalam sebelumnya, yang seakan tak memandang ada urgensi untuk mengambil langkah cepat.

“Saya selesaikan semuanya minggu depan. Ada yang harus diselesaikan dulu, yang harus dirampungkan.”

Ketika ditanya wartawan, alasan yang menyebabkan penundaan keputusan, Presiden Jokowi menukas, “Siapa yang menunda?.”

Keesokan harinya, Presiden Jokowi bertolak ke Malaysia untuk mengawali lawatan tiga negara -termasuk Brunei dan Filipina- hingga Selasa pekan depan.

Lawatan Jokowi di tengah kegaduhan politik ini disayangkan banyak pengamat. (BBC)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*