Kejagung Terima 2 SPDP Kasus Dugaan Ujaran Kebencian

JAKARTA-(TERBITTOP.COM)-Kejaksaan memastikan pihaknya telah menerima Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) atas nama Bahar bin Ali bin Smith terkait dugaan kasus ujaran kebencian (Hate Spech) dari penyidik Mabes Polri dan Polda Metro Jaya.

Bahar bin Ali bin Smith ditetapkan sebagai tersangka usai diperiksa tim penyidik Direktorat Tindak Pidana Umum Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri selama 11 jam, Kamis kemarin.

“SPDP sudah kita terima dari penyidik Polda dan Bareskrim Mabes Polri. Bahkan tersangkanya, pun sudah, kita tinggal proses hukum penyidikan oleh penyidik polri,”kata Jaksa Agung, HM Prasetyo kepada wartawan, di Kejagung, Jakarta, Jumat (07/12).

Jaksa Agung menegaskan Kejaksaan sudah menerima 2 SPDP baik dari tim penyidik Bareskrim Mabes Polri dan Polda Metro Jaya lantaran Bahar dilaporkan pihak pelapor dikeduanya.

“Kan ada 2 SPDP di sini, dari bareskrim mabes polri dan dari polda. Polda kepads Kejati DKI Jakarta, sementara mabes polri SPDP ya kepad Jampidum. Teknisnya seperti apa, apakah pelimpahan ke pengadilan digabungkan karena waktunya berekatan atau seperti apa”ujarnya.

Terkait 2 SPDP tersebut, Jaksa Agung menjelaskan Bahar ditetapkan sebagai tersangka Hate Spech dan ujaran kebencian kepada presiden. “Kita segera dituntaskan”tukasnya.

Ditanya penanganan kasus tersebut yang diduga akan dipercepat lantaran pilpres dan Pileg, Jaksa Agung membantah hal tersebut. Dia bahkan menyarankan wartawan bertanya kepada penyidik Polda dan Bareskrim mabes Polri.

Selain itu, Jaksa Agung juga memastikan tidak akan menargetkan kapan berkas tersebut dilimpahkan ke Pengadilan.

“Tanya ke sana, nanti setelah dikirimkan ke kejaksaan, kita teliti, JPU akan meneliti dan kembali kita ngga ada target-targetan,”ujarnya sambil menambahkan Kejaksaan pada prinsipnya cepat, sederhana, biaya ringan, itu prinsip dalam KUHAP seperti itu.

“Nanti kalau berkasnya dikirm ke JPU, ya saya perintahkan untuk segera diteliti. Kalau lengkap, nyatakan lengkap, kita tunggu bagaimana penyerahan tersangka dan barang buktinya kita pelajari lagi, disusun surat dakwannya, dilimpahkan ke pengadilan. Seperti itu tahapan-tahapannya,” pungkasnya.

Sebelumnya Bareskrim Mabes Polri langsung menetapkan Bahar bin Smith sebagai tersangka setelah yang memeriksa yang bersangkutan sekitar 11 jam.

Atas perbuatannya, Bahar bin Smith disangkakan melanggar Pasal 16 Ayat (4) huruf (a) ke-2 Undang-Undang (UU) Nomor 40 Tahun 2018 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis dan atau Pasal 28 Ayat (2) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Diperoleh informasi, sebelum memeriksa Bahar, tim penyidik telah memeriksa 11 orang saksi dan empat ahli terkait . video berisi ujaran kebencian Bahar yang dipermasalahkan merupakan video rekaman ceramah Bahar pada 8 Januari 2017 dalam peringatan Maulid Nabi di Palembang, Sumatera Selatan (Sumsel).

Bahar dilaporkan Ketua Umum Cyber Indonesia, Muannas Alaidid menyebutkan Bahar menyampaikan ucapan yang mengandung kebencian terhadap Presiden Joko Widodo yakni: “Kalo kamu ketemu Jokowi, kamu buka cel*n*nya itu, jangan-jangan h**d Jokowi itu, kayaknya b*nc* itu”.

Tidak hanya Muanas juga dilaporkan terkait Vidio tersebut. Selanjutnya, Muannas melaporkan Bahar ke Polda Metro Jaya berdasarkan Laporan Polisi Nomor: TBL/6519/XI:2018/PMJ/Ditreskrimsus tertanggal 28 November 2018, namun kemudian kasus dilimpahkan ke Mabes Polri.

Atas perbuatannya, Bahar bin Smith dituduh melanggar Pasal 28 Ayat (2) juncto Pasal 45 A Ayat (2) Undang-Undang (UU) Nomor 19 Tahun 2018 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan Pasal 4 huruf b angka 2 juncto Pasal 16 UU Nomor 40 Tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Ernis dan Pasal 207 KUHP. (ris)

Leave a comment

Your email address will not be published.


*