
Kendari – Kasus tragis bunuh diri seorang bocah perempuan di Demak, Jawa Tengah. Febriani Sarlis selaku Sekfung Pemberdayaan Perempuan GMKI Cabang Kendari menyerukan gerakan solidaritas nasional untuk pencegahan bunuh diri pada anak, khususnya perempuan. Insiden memilukan ini terjadi pada Kamis, 12 Februari 2026, ketika SA (13), siswi SD asal Desa Batursari, Kecamatan Mranggen, Kabupaten Demak, ditemukan ibunya tergantung di pintu dalam rumah menggunakan selendang lurik yang diikat pada besi pull-up.
“Kami sangat prihatin dengan kasus SA di Demak, di mana polisi memastikan murni bunuh diri tanpa tanda kekerasan fisik setelah olah TKP dan pemeriksaan saksi, termasuk CCTV yang menunjukkan ibu korban berteriak minta tolong pukul 18.03 WIB. Fenomena bunuh diri anak perempuan seperti ini kerap terjadi di berbagai daerah, dipicu oleh tekanan keluarga, bullying di sekolah, atau beban akademik, dan ini akan terus berkembang jika tidak ada intervensi dini dari orang tua, guru, dan pemerintah. Maka dari itu, kami mengajak semua perempuan dan keluarga untuk peka terhadap tanda-tanda depresi pada anak, seperti isolasi atau unggahan media sosial yang mencurigakan, serta segera laporkan ke psikolog, konselor sekolah, atau layanan darurat seperti KPAI dan hotline kesehatan jiwa,” Ujar Febriani Sarlis.
Dalam momentum ini, Febriani juga menekankan pentingnya kampanye kesadaran kesehatan mental anak, terinspirasi dari data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) yang mencatat 26 kasus bunuh diri anak sepanjang 2025, dengan tambahan 3 kasus di awal 2026, mayoritas pada usia 10-17 tahun. Korban SA, yang aktif dalam olahraga taekwondo, sempat mengunggah tangkapan layar percakapan emosional diduga dari ibunya di media sosial beberapa hari sebelumnya, dengan caption “Di balik tawa gua, di sisi lain aku juga cape”, menandakan tekanan psikologis yang dialami.
“Kami menyampaikan empati mendalam kepada keluarga SA dan korban-korban serupa, bagaimana tidak, data KPAI menunjukkan tren tinggi bunuh diri anak di Indonesia, dengan 116 kasus kumulatif sejak 2023-2025, menempatkan kita sebagai yang tertinggi di Asia Tenggara. Pemerintah harus hadir lebih kuat dengan program deteksi dini di sekolah, pelatihan parenting anti-kekerasan verbal, dan akses konseling gratis, agar kasus seperti ini tidak terulang. GMKI-KENDARI siap berkolaborasi dengan Komnas Perempuan, KPAI, dan pemerintah daerah untuk sosialisasi dan dukungan korban potensial,” tutup Febriani Sarlis.
